Prinsip dan Kriteria Pemberian Pembiayaan
Berdasarkan Sistem Grameen Bank
A. Prinsip Pemberian Pembiayaan
Dalam melaksanakan Program, BaitulMaal akan menerapkan prinsip-prinsip pokok Grameen Bank, sbb. :
Pinjaman diberikan tanpa agunan atau penjamin dan tanpa tindakan hukum apabila tidak dapat membayar kembali pinjamannya.
Pinjaman diberikan kepada orang-orang atau rumah tangga termiskin di daerah pedesaan.
Prosedur pemberian kredit dibuat sederhana.
Calon anggota membentuk Kumpulan dan beberapa kumpulan membentuk satu Rembug Pusat.
Pinjaman diberikan untuk kegiatan produktif.
Baitul Maal memberikan pinjaman yang jumlahnya relatif kecil dengan angsuran mingguan selama 1 tahun (dalam tahap pertama pinjaman maksimum Rp. 300.000).
Pinjaman diberikan secara berurutan, dua anggota kelompok yang membutuhkan diberi prioritas pertama, kemudian menyusul dua anggota lainnya, sedangkan ketua kumpulan menerima pinjaman paling akhir.
Pengawasan dilakukan dalam hal penggunaan pinjaman dan pembayaran angsuran.
Peminjam diberi kemungkinan meminjam kembali setelah pinjamannya lunas.
Tabungan Kumpulan :
Setiap peminjam dikenakan simpanan wajib sebesar 5% dari jumlah pinjaman dan disimpan sebagai Tabungan Kumpulan
Setiap anggota menabung Rp. 100,00 setiap minggu dalam Tabungan Kumpulan.
Pinjaman diberikan tanpa bunga, tetapi dikenakan biaya administrasi.
Pembebasan hutang apabila anggota meninggal dunia.
Semua transaksi pinjaman dan tabungan diadakan dalam Rembug Pusat.
B. Kriteria Pembiayaan Baitul Maal Al Ikhlas
Agar program ini dapat mencapai sasarannya yaitu agar pinjaman Baitul Maal hanya diberikan kepada orang-orang atau rumah tangga yang termiskin di daerah pedesaan, ditetapkan kriteria tertentu mengenai penghasilan, pemilikan rumah, tanah dan aset lainnya untuk memperoleh pinjaman Baitul Maal Al Ikhlas.
Syarat-syarat kelayakan tersebut adalah ;
Rumah tangga yang bersangkutan tidak memiliki tanah, atau memilik tanah yang kurang dari 0,25 ha.
Pendapatan perkapita rumah tangga kurang dari Rp. 150.000,- perbulan.
Peminjam memiliki ketrampilan dalam usaha yang akan dijalankan.
Peminjam memiliki kegiatan usaha yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kelayakannya.
Untuk peminjam yang hanya memiliki usaha yang bersifat jangka panjang atau musiman, harus mempunyai usaha lain yang sifatnya jangka pendek atau cepat mendatangkan hasil.
5.4. Tahapan Pelaksanaan Percontohan
Sebelum dilaksanakan pilot proyek didahului dengan pelaksanaan survai untuk mengumpulkan data dasar (base line reseach) di wilayah sampel. Hasil dari base line ini menunjukkan bahwa masyarakat termiskin memang membutuhkan bantuan kredit untuk melaksanakan kegiatan usaha komersial mereka. Selama ini banyak diantara mereka yang terjerat pada rentenir (dengan nama populer "bank titil") dengan beban bunga sampai 30% per bulan.
Base line research juga menyajikan informasi yang mencakup :
Kondisi ekonomi rumah tangga miskin dan tidak miskin diukur dari pengeluaran konsumsinya.
Karakteristik penduduk (jumlah anggota keluarga, jumlah orang dewasa, rasio ketergantungan, karakteristik kepala rumah tangga).
Sumber pendapatan rumah tangga dan pola konsumsi.
Kualitas sumber daya manusia diukur dari tingkat pendidikan formal dan pilihan bidang pekerjaan.
Kemampuan menabung sebagai sumber penumpukan dana.
Sebagai tindak lanjut dari base line reseach dilaksanakan pilot proyek (kaji tindak) yang mengambil lokasi di wilayah sampel.
Kegiatan pilot proyek terbagi dalam beberapa tahap, yang akan diuraikan berikut ini.
A. Tahap Persiapan
Dalam tahap ini kegiatan-kegiatannya meliputi :
Pengangkatan dan pelatihan petugas lapang yang merangkap administrasi kantor.
Menyewa rumah untuk kantor dan sekaligus tempat tinggal petugas lapang yang membutuhkan.
Menyiapkan buku-buku administrasi.
Perencanaan kelompok sasaran selama 1 tahun. Untuk satu tahun pertama jumlah anggota sasaran dapat direncanakan misalnya 100 mitra, mencakup beberapa desa dengan total realisasi kredit (tahap pertama) perorang maksimum Rp. 500 ribu.
Persiapan pembentukan kelompok pertama dengan memberikan informasi dari rumah ke rumah untuk rumah tangga paling miskin.
B. Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan, kegiatan yang dilakukan tim pelaksana adalah :
Mendaftar ibu-ibu yang akan meminjam (tiap kelompok terdiri atas 5-10 orang).
Melakukan uji kelayakan (UK).
Melaksanakan Latihan Wajib Kumpul (LWK) selama 5 hari.
Pengesahan Kelompok.
Pembentukan Rembug Pusat.
Pengajuan Pembiayaan, realisasi, angsuran, tabungan dan pemecahan masalah yang ada dalam Rembug Pusat.
Anjangsana ke Mitra dengan tugas monitoring.
C. Tahap Monitoring
Obyek yang akan dipantau perkembangannya adalah :
Perkembangan jumlah Mitra secara absolut dan relatif. Ukuran relatif didasarkan pada rasio antara jumlah nasabah riel dengan nasabah potensial. Yang dimaksud dengan nasabah potensial adalah jumlah penduduk miskin di wilayah kerja Baitul Maal.
Memonitor jenis-jenis usaha nasabah.
Perkembangan realisasi kredit, jumlah angsuran dan sisa pinjaman.
Perkembangan dana kumpulan (pokok, wajib dan administratif).
Memonitor keadaan Baitul Maal yang meliputi :
Memonitor kebutuhan tambahan tenaga kerja sesuai dengan wilayah perkembangan kerja.
Mengamati animo masyarakat di luar wilayah kerja terhadap kegiatan Baitul Maal.
Monitoring dimaksudkan untuk tujuan penyempurnaan pelaksanaan proyek Baitul Maal, dan dilakukan sejak Baitul Maal mulai berjalan.
D. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi adalah melakukan penilaian terhadap pelaksanaan proyek Baitul Maal setelah berjalan satu tahun.
Pelaksanaan evaluasi dilaksanakan dengan metode survai dan observasi.
Aspek-aspek yang akan dievaluasi adalah :
Sejauh mana proyek ini mampu meningkatkan penghasilan keluarga mitra.
Tingkat kedisiplinan nasabah, dilihat dari ketepatan waktu serta jumlah angsuran.
Perkembangan jenis kegiatan ekonomi nasabah.
Supervisi terhadap nasabah mengenai kemampuan pemu-pukan modal dan pengguanaan pinjaman dari Baitul Maal.
Evaluasi terhadap alokasi biaya operasional proyek dan pendapatan.
Evaluasi mengenai pengaruh Baitul Maal terhadap akumulasi modal anggota.
Dampak Baitul Maal terhadap jenis pekerjaan dan kesempatan kerja.
Artikel ini bersumber dari Manajer Baitul Maal AL-IKHLAS
Selamat Datang dan Tengkyu!
Terima kasih telah mengunjungi blog saya. Senang bisa berinteraksi dengan Anda.
Mungkin dengan media ini lebih mudah bagi saya dan Anda berinteraksi lintas ruang dan waktu.
Siapa pun Anda, mari berbagi gagasan dan inspirasi!
b+
Nurhidayanto
Mungkin dengan media ini lebih mudah bagi saya dan Anda berinteraksi lintas ruang dan waktu.
Siapa pun Anda, mari berbagi gagasan dan inspirasi!
b+
Nurhidayanto
Tampilkan postingan dengan label Micro Finance BMT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Micro Finance BMT. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 April 2009
Jumat, 03 April 2009
Ingin Meraih Manfaat Ganda?
Jika Anda berminat untuk mendirikan BMT atau menyusun rencana bisnis lembaga keuangan mikro syariah, silakan hubungi PT. ISES Consulting Indonesia melalui telpon 085878 617 333 atau 0274 625 945 atau klik di sini.
Selain menyediakan paket utuh pendampingan untuk seluruh rangkaian pendirian BMT, kami juga dapat memandu pendiri BMT untuk menyusun bagian per-bagian dalam perancangan usaha BMT.
Salam.
Nurhidayanto
085878 617 333
Selain menyediakan paket utuh pendampingan untuk seluruh rangkaian pendirian BMT, kami juga dapat memandu pendiri BMT untuk menyusun bagian per-bagian dalam perancangan usaha BMT.
Salam.
Nurhidayanto
085878 617 333
BMT Artha Sejahtera Rotowijayan Andalan Pelaku Usaha Wisata di Wilayah Kraton Jogja
Jika ada baitul maal wat tamwiil (BMT) yang populer di kalangan pengusaha cinderamata, penjual kaos ”dagadu”, toko batik, toko oleh-oleh bakpia, hingga tukang parkir dan tukang becak di kawasan sekitar alun-alun utara Kraton Jogjakarta, inilah BMT Artha Sejahtera Rotowijayan. Berkantor di jalan Rotowijayan no. 15, Kadipaten, Kecamatan Kraton, BMT ini membidik segmen pelaku usaha di sektor wisata budaya sebagai ujung tombak pelayanan jasa keuangan syariah yang ditekuninya.
”Tidak bisa dipungkiri, wisata kawasan Kraton turut menggerakkan ekonomi masyarakat Jogja. Kehadiran pelayanan kami diharapkan mampu bersinergi dengan pelaku usaha yang menjadi salah satu ikon Kota Budaya ini,” tutur Heru Hastyanto, SE. Manajer Pusat BMT Arta Sejahtera menjelaskan tekad BMT-nya. Sinergi yang dimaksud tentunya adalah penyediaan dana untuk membiayai berbagai usaha yang mendukung wisata di kawasan ini, dengan berpijak pada transaksi yang halal sesuai syariah.
Tekad BMT ternyata mendapat respon yang sangat bagus dari warga sekitar. ”Dulu, bahkan sebelum pembukaan kantor secara resmi, berbagai bentuk kerjasama pembiayaan sudah diajukan,” tambah Manajer BMT. Pengajuan pembiayaan, dalam lembaga keuangan konvensional diistilahkan dengan ’kredit’ meski secara subtansi berbeda, biasanya digunakan untuk keperluan kulakan barang dagangan, kulakan bahan, membayar tagihan yang jatuh tempo, membeli mesin produksi, dan sebagainya. Nilai pembiayaan yang diajukan berkisar antara 500 ribu hingga 15 juta rupiah.
Meski menggarap sektor yang khusus, ialah pelaku usaha pariwisata, BMT Artha Sejahtera Rotowijayan tetap menggunakan akad/perjanjian standar syariah yang sudah populer. Akad yang digunakan adalah akad murabahah (jika transaksi bersifat jual beli), ijarah (sewa menyewa), musyarakah dan mudharabah (kerjasama usaha). ”Penerapan akad standar ini karena kebetulan beragam pembiayaan yang telah disetujui dicairkan masih bisa dalam lingkup keempat jenis akad standar tersebut,” jelas Pandit Fatih Ahmadi, SE. yang ditunjuk sebagai Manajer Harian BMT.
Sehari-harinya BMT Artha Sejahtera dikelola oleh 5 (empat) personel. Kelimanya meliputi manajer, tenaga pembukuan (akunting), dua marketing dan teler merangkap CSO. Keseluruhan tenaga pengelola ini bekerja sepenuh waktu. Prinsip profesionalisme pengelolaan BMT ini selain sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku juga untuk memenuhi tuntutan agar pelayanan berjalan optimal di sebuah kantor lembaga keuangan syariah.
Pentingnya Segmentasi Sasaran Pelayanan BMT
Pemilahan dan pemilihan sasaran utama pelayanan oleh BMT adalah sebuah syarat mutlak kesuksesan usahanya. Hampir bisa dipastikan, BMT yang sukses adalah BMT yang berani memilih segmennya dengan cerdas, berani dan fokus.
Sebagai salah satu BMT yang proses pendirian dan pengelolaannya didampingi oleh PT. ISES Consulting Indonesia, BMT Artha Sejahtera telah berani mengambil langkah focussing layanan dengan jelas. Dalam hal ini BMT memilih segmen dengan fokus komunitas berbasis teritorial, dengan melihat potensi komunitas di sekeliling BMT ini berlokasi.
Pilihan sektor yang akan dibidik harus dikaji dan didefinisikan sejak dalam perancangan bisnis BMT (business plan). Karena lokasinya di kawasan wisata, maka membidik pelaku usaha di sektor wisata adalah sebuah pilihan yang sangat rasional. Apalagi sudah mafhum bersama bahwa sektor pariwisata termasuk usaha yang selalu dinamis, kreatif menghadapi berbagai bentuk krisis ekonomi.
Bagaimana strategi memilih segmen layanan BMT? Bisa dikatakan, pada mulanya BMT dilahirkan oleh segmen komunitas masyarakat tertentu. Kelompok masyarakat yang spesifik kepentingan dan misi ekonominya. Kelompok kecil ini, karena kesamaan kepentingan dan pandangan ekonomi, mengawali terbentuknya BMT. Kelompok kecil inilah, biasanya berjumlah 20-30 orang, yang menjadi anggota pendiri BMT.
Dalam perjalanan pengembangan usahanya, pertama kali BMT perlu melebarkan kemitraan terhadap segmen intinya, ialah anggota-anggota pendirinya. Setelah berhasil melayani anggota-anggota pendiri, BMT merangkul pelaku-pelaku usaha di sekelilingnya.
Segmentasi pelayanan BMT bukan berarti membatasi pelayanan BMT hanya untuk kalangan tertentu saja. Dengan logika bidang usaha BMT di jasa keuangan syariah, maka kegiatan simpanan dan pembiayaan yang diusahakan oleh BMT sudah pasti akan menggabungkan berbagai elemen potensi ekonomi masyarakat. Para pelaku usaha yang butuh modal mendapat pembiayaan. Yang bukan pelaku usaha di kawasan Kraton, namun berminat untuk berinvestasi di sektor pariwisata, dapat memanfaatkan layanan simpanan dan simpanan berjangka.
Maka, segmentasi sasaran usaha BMT adalah awal untuk mensinergikan, memadukan berbagai potensi ekonomi, dari pemodal hingga pelaku usaha. BMT Artha Sejahtera Rotowijayan telah memberikan contoh aplikasinya.
Nurhidayanto
Manajer Program ISES Consulting Indonesia
”Tidak bisa dipungkiri, wisata kawasan Kraton turut menggerakkan ekonomi masyarakat Jogja. Kehadiran pelayanan kami diharapkan mampu bersinergi dengan pelaku usaha yang menjadi salah satu ikon Kota Budaya ini,” tutur Heru Hastyanto, SE. Manajer Pusat BMT Arta Sejahtera menjelaskan tekad BMT-nya. Sinergi yang dimaksud tentunya adalah penyediaan dana untuk membiayai berbagai usaha yang mendukung wisata di kawasan ini, dengan berpijak pada transaksi yang halal sesuai syariah.
Tekad BMT ternyata mendapat respon yang sangat bagus dari warga sekitar. ”Dulu, bahkan sebelum pembukaan kantor secara resmi, berbagai bentuk kerjasama pembiayaan sudah diajukan,” tambah Manajer BMT. Pengajuan pembiayaan, dalam lembaga keuangan konvensional diistilahkan dengan ’kredit’ meski secara subtansi berbeda, biasanya digunakan untuk keperluan kulakan barang dagangan, kulakan bahan, membayar tagihan yang jatuh tempo, membeli mesin produksi, dan sebagainya. Nilai pembiayaan yang diajukan berkisar antara 500 ribu hingga 15 juta rupiah.
Meski menggarap sektor yang khusus, ialah pelaku usaha pariwisata, BMT Artha Sejahtera Rotowijayan tetap menggunakan akad/perjanjian standar syariah yang sudah populer. Akad yang digunakan adalah akad murabahah (jika transaksi bersifat jual beli), ijarah (sewa menyewa), musyarakah dan mudharabah (kerjasama usaha). ”Penerapan akad standar ini karena kebetulan beragam pembiayaan yang telah disetujui dicairkan masih bisa dalam lingkup keempat jenis akad standar tersebut,” jelas Pandit Fatih Ahmadi, SE. yang ditunjuk sebagai Manajer Harian BMT.
Sehari-harinya BMT Artha Sejahtera dikelola oleh 5 (empat) personel. Kelimanya meliputi manajer, tenaga pembukuan (akunting), dua marketing dan teler merangkap CSO. Keseluruhan tenaga pengelola ini bekerja sepenuh waktu. Prinsip profesionalisme pengelolaan BMT ini selain sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku juga untuk memenuhi tuntutan agar pelayanan berjalan optimal di sebuah kantor lembaga keuangan syariah.
Pentingnya Segmentasi Sasaran Pelayanan BMT
Pemilahan dan pemilihan sasaran utama pelayanan oleh BMT adalah sebuah syarat mutlak kesuksesan usahanya. Hampir bisa dipastikan, BMT yang sukses adalah BMT yang berani memilih segmennya dengan cerdas, berani dan fokus.
Sebagai salah satu BMT yang proses pendirian dan pengelolaannya didampingi oleh PT. ISES Consulting Indonesia, BMT Artha Sejahtera telah berani mengambil langkah focussing layanan dengan jelas. Dalam hal ini BMT memilih segmen dengan fokus komunitas berbasis teritorial, dengan melihat potensi komunitas di sekeliling BMT ini berlokasi.
Pilihan sektor yang akan dibidik harus dikaji dan didefinisikan sejak dalam perancangan bisnis BMT (business plan). Karena lokasinya di kawasan wisata, maka membidik pelaku usaha di sektor wisata adalah sebuah pilihan yang sangat rasional. Apalagi sudah mafhum bersama bahwa sektor pariwisata termasuk usaha yang selalu dinamis, kreatif menghadapi berbagai bentuk krisis ekonomi.
Bagaimana strategi memilih segmen layanan BMT? Bisa dikatakan, pada mulanya BMT dilahirkan oleh segmen komunitas masyarakat tertentu. Kelompok masyarakat yang spesifik kepentingan dan misi ekonominya. Kelompok kecil ini, karena kesamaan kepentingan dan pandangan ekonomi, mengawali terbentuknya BMT. Kelompok kecil inilah, biasanya berjumlah 20-30 orang, yang menjadi anggota pendiri BMT.
Dalam perjalanan pengembangan usahanya, pertama kali BMT perlu melebarkan kemitraan terhadap segmen intinya, ialah anggota-anggota pendirinya. Setelah berhasil melayani anggota-anggota pendiri, BMT merangkul pelaku-pelaku usaha di sekelilingnya.
Segmentasi pelayanan BMT bukan berarti membatasi pelayanan BMT hanya untuk kalangan tertentu saja. Dengan logika bidang usaha BMT di jasa keuangan syariah, maka kegiatan simpanan dan pembiayaan yang diusahakan oleh BMT sudah pasti akan menggabungkan berbagai elemen potensi ekonomi masyarakat. Para pelaku usaha yang butuh modal mendapat pembiayaan. Yang bukan pelaku usaha di kawasan Kraton, namun berminat untuk berinvestasi di sektor pariwisata, dapat memanfaatkan layanan simpanan dan simpanan berjangka.
Maka, segmentasi sasaran usaha BMT adalah awal untuk mensinergikan, memadukan berbagai potensi ekonomi, dari pemodal hingga pelaku usaha. BMT Artha Sejahtera Rotowijayan telah memberikan contoh aplikasinya.
Nurhidayanto
Manajer Program ISES Consulting Indonesia
BMT IHSAN MULIA, Fokus pada Pelaku Usaha Mikro di Perkotaan
Hingga hari ini, ketersediaan modal masih menjadi salah satu masalah utama para pelaku usaha mikro di Kota Jogjakarta. Karakter usaha mikro yang cenderung non-formal dan berskala kecil menyulitkan mereka ketika hendak mengakses tambahan modal maupun beragam kebutuhan keuangan sehari-hari dari lembaga keuangan perbankan. Padahal dalam kenyataan dari usaha semacam inilah, untuk sekedar menyebut sebagian diantaranya usaha tambal ban, warung kelontong, berjualan donat keliling, berjualan sayuran keliling, warung nasi, penjual mainan anak-anak keliling, masyarakat kecil di perkotaan mendapatkan penghasilan untuk menyangga kebutuhan keluarganya.
Inilah diantara yang melatarbelakangi pendirian BMT IHSAN MULIA yang berlokasi di Jalan Jlagran, tepatnya 200 meter dari stasiun Tugu ke arah barat. Dibentuk oleh 33 orang pendirinya sejak lima bulan yang lalu, BMT ini dengan tegas memposisikan layanannya untuk menunjang kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro pada masyarakat urban.
"Sejak awal, bahkan sebelum BMT IHSAN MULIA dibentuk, kami telah menginventarisasi potensi ekonomi masyarakat sekitar lokasi kantor. Kesimpulan kami, yang menjadi landasan awal pendirian BMT ini, menggarap sektor mikro di perkotaan sarat manfaat pemberdayaan," tutur Muhammah Rasyid, ST. Ketua Pengurus BMT IHSAN MULIA. Ternyata ada yang mengejutkan, baru beberapa bulan berjalan didapat kesimpulan tambahan. "Sektor ini juga terbukti mampu menghasilkan keuntungan yang sangat bersaing bagi para penabung dan investor," imbuh Ketua Pengurus BMT.
Dalam konteks Kota Jogjakarta, kota yang identik dengan pendidikan, budaya dan pariwisata, peluang usaha berskala mikro tentu bertebaran di mana-mana. Bagi yang sedang atau pernah tinggal di Jogja, katakanlah untuk kuliah misalnya, tentu telah mafhum dengan warung-warung nasi yang tersedia hingga di dalam pemukiman. Atau "warung koboy" yang menjadi jujugan kalau malam hari tiba-tiba perut melilit karena telat makan. Semua itu adalah buah kreatifitas pengusaha mikro. Jasa laundry, kos-kosan, pengetikan, service komputer, hingga pengantaran air minum isi ulang, adalah beberapa contoh usaha mikro yang bisa dimulai dengan bermodal Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) saja.
Dikelola oleh seorang manajer yang memimpin tim yang terdiri dari dua account officer, satu costumer service officer dan satu orang tenaga akunting, BMT ini menyediakan layanan simpanan dan pembiayaan berbasis syariah.
"Layanan simpanan dikelola berdasarkan prinsip mudharabah (investasi) dan wadiah (titipan), baik yang bersifat fleksibel maupun dengan perjanjian/syarat khusus (muqayadah). Syarat khusus ini misalnya adalah jika ada investor atau penabung yang menghendaki dana titipannya disalurkan khusus untuk para pedagang keliling," jelas Dwi Lestari, Manajer BMT IHSAN MULIA.
Sedangkan jasa pembiayaan menggunakan prinsip jual-beli, sewa menyewa, dan kerjasama usaha. Selain simpanan dan pembiayaan syariah yang bersifat produktif (tamwiil), selayaknya baitul maal wat tamwiil yang memang juga mengemban fungsi baitul maal, BMT IHSAN MULIA juga menjalankan peran-peran sosial. Saat pembukaan kantornya, BMT ini menyerahkan beasiswa kepada 10 murid sekolah dasar yang berlokasi di sekitar kantornya.
Usaha Mikro, Tahan Krisis dan Lebih Menguntungkan
Dalam perkembangan dan dinamika ekonomi di Tanah Air, tidak dapat disangkal lagi daya hidup dan kekuatan usaha mikro dalam berjuang mengatasi kemiskinan. Berpijak di atas semangat kemandirian, para pelaku usaha mikro selalu bertahan melewati berbagai krisis ekonomi – saat dimana pengusaha lain gulung tikar menyisakan gelombang PHK di mana-mana. Kreatifitas dan semangat hidup yang tinggi, itulah kunci pelaku usaha mikro. Sampai ada ungkapan yang mengatakan "jika pedagang sayur tidak laku dia masih bisa ganti berjualan buah, berjualan buah tidak laku ganti berjualan jagung bakar, jagung bakar tidak laku ganti berjualan pisang rebus". Begitu seterusnya, seakan tidak ada kamus mati dalam berusaha.
Peluang usaha bagi pelakunya, adalah peluang investasi bagi lembaga keuangan syariah. BMT IHSAN MULIA telah memahami sosio-ekonomi semacam ini. Maka, pilihan untuk melayani pelaku usaha mikro di Kota Jogja ini sungguh pilihan yang menyimpan potensi keuntungan sekaligus pemberdayaan yang sangat besar.
Peluang keuntungan di sektor mikro bertumpu pada perputaran modal yang cepat. Pelaku usaha mikro karena berangkat dari modal yang relatif kecil maka cepat pula mencapai titik balik modal (BEP). Bayangkan, berjualan sayur paling lama 2 hari sudah pasti habis dagangannya. Warung nasi dan angkringan karakternya hampir sama. Maka, basis waktu pembiayaan untuk usaha-usaha semacam tidak harus merujuk pada (angsuran) bulanan. Paling tepat adalah mingguan atau harian untuk mengembalikan pembiayaan kepada BMT.
Untuk dapat melayani sektor mikro secara profesional dan berkelanjutan, karakter sektor mikro harus benar-benar dikuasai oleh praktisi BMT. Resiko dan keamanan harus tetap menjadi perhatian, meski tidak mesti dalam bentuk yang kaku. Yang paling penting adalah kreatifitas BMT agar resiko dapat ditekan seminimal mungkin, tanpa mengorbankan potensi keuntungan dan prinsip kerjasama yang saling menguntungkan.
Diantara cara yang harus ditempuh adalah dengan pendampingan kepada mitra pembiayaan, misalnya dalam cara mengangsur pengembalian pembiayaan. Cara pengembalian pinjaman harus memperhatikan pola penghasilan pelaku usaha. Jika penghasilannya harian, maka angsuran dapat dibuat pola harian. Demikian pula jika pola penghasilannya lima harian, mingguan maupun sepuluh harian.
BMT IHSAN MULIA juga perlu membiasakan menabung bagi semua penerima pembiayaannya. Dengan dua pola ini, kekhawatiran jika pengembalian akan macet bisa diminimalisir. Katakanlah, jika saatnya mengangsur belum ada dana maka bisa diambilkan dari tabungan yang bersangkutan.
Nurhidayanto
Manajer Program ISES Consuling Indonesia
Inilah diantara yang melatarbelakangi pendirian BMT IHSAN MULIA yang berlokasi di Jalan Jlagran, tepatnya 200 meter dari stasiun Tugu ke arah barat. Dibentuk oleh 33 orang pendirinya sejak lima bulan yang lalu, BMT ini dengan tegas memposisikan layanannya untuk menunjang kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro pada masyarakat urban.
"Sejak awal, bahkan sebelum BMT IHSAN MULIA dibentuk, kami telah menginventarisasi potensi ekonomi masyarakat sekitar lokasi kantor. Kesimpulan kami, yang menjadi landasan awal pendirian BMT ini, menggarap sektor mikro di perkotaan sarat manfaat pemberdayaan," tutur Muhammah Rasyid, ST. Ketua Pengurus BMT IHSAN MULIA. Ternyata ada yang mengejutkan, baru beberapa bulan berjalan didapat kesimpulan tambahan. "Sektor ini juga terbukti mampu menghasilkan keuntungan yang sangat bersaing bagi para penabung dan investor," imbuh Ketua Pengurus BMT.
Dalam konteks Kota Jogjakarta, kota yang identik dengan pendidikan, budaya dan pariwisata, peluang usaha berskala mikro tentu bertebaran di mana-mana. Bagi yang sedang atau pernah tinggal di Jogja, katakanlah untuk kuliah misalnya, tentu telah mafhum dengan warung-warung nasi yang tersedia hingga di dalam pemukiman. Atau "warung koboy" yang menjadi jujugan kalau malam hari tiba-tiba perut melilit karena telat makan. Semua itu adalah buah kreatifitas pengusaha mikro. Jasa laundry, kos-kosan, pengetikan, service komputer, hingga pengantaran air minum isi ulang, adalah beberapa contoh usaha mikro yang bisa dimulai dengan bermodal Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) saja.
Dikelola oleh seorang manajer yang memimpin tim yang terdiri dari dua account officer, satu costumer service officer dan satu orang tenaga akunting, BMT ini menyediakan layanan simpanan dan pembiayaan berbasis syariah.
"Layanan simpanan dikelola berdasarkan prinsip mudharabah (investasi) dan wadiah (titipan), baik yang bersifat fleksibel maupun dengan perjanjian/syarat khusus (muqayadah). Syarat khusus ini misalnya adalah jika ada investor atau penabung yang menghendaki dana titipannya disalurkan khusus untuk para pedagang keliling," jelas Dwi Lestari, Manajer BMT IHSAN MULIA.
Sedangkan jasa pembiayaan menggunakan prinsip jual-beli, sewa menyewa, dan kerjasama usaha. Selain simpanan dan pembiayaan syariah yang bersifat produktif (tamwiil), selayaknya baitul maal wat tamwiil yang memang juga mengemban fungsi baitul maal, BMT IHSAN MULIA juga menjalankan peran-peran sosial. Saat pembukaan kantornya, BMT ini menyerahkan beasiswa kepada 10 murid sekolah dasar yang berlokasi di sekitar kantornya.
Usaha Mikro, Tahan Krisis dan Lebih Menguntungkan
Dalam perkembangan dan dinamika ekonomi di Tanah Air, tidak dapat disangkal lagi daya hidup dan kekuatan usaha mikro dalam berjuang mengatasi kemiskinan. Berpijak di atas semangat kemandirian, para pelaku usaha mikro selalu bertahan melewati berbagai krisis ekonomi – saat dimana pengusaha lain gulung tikar menyisakan gelombang PHK di mana-mana. Kreatifitas dan semangat hidup yang tinggi, itulah kunci pelaku usaha mikro. Sampai ada ungkapan yang mengatakan "jika pedagang sayur tidak laku dia masih bisa ganti berjualan buah, berjualan buah tidak laku ganti berjualan jagung bakar, jagung bakar tidak laku ganti berjualan pisang rebus". Begitu seterusnya, seakan tidak ada kamus mati dalam berusaha.
Peluang usaha bagi pelakunya, adalah peluang investasi bagi lembaga keuangan syariah. BMT IHSAN MULIA telah memahami sosio-ekonomi semacam ini. Maka, pilihan untuk melayani pelaku usaha mikro di Kota Jogja ini sungguh pilihan yang menyimpan potensi keuntungan sekaligus pemberdayaan yang sangat besar.
Peluang keuntungan di sektor mikro bertumpu pada perputaran modal yang cepat. Pelaku usaha mikro karena berangkat dari modal yang relatif kecil maka cepat pula mencapai titik balik modal (BEP). Bayangkan, berjualan sayur paling lama 2 hari sudah pasti habis dagangannya. Warung nasi dan angkringan karakternya hampir sama. Maka, basis waktu pembiayaan untuk usaha-usaha semacam tidak harus merujuk pada (angsuran) bulanan. Paling tepat adalah mingguan atau harian untuk mengembalikan pembiayaan kepada BMT.
Untuk dapat melayani sektor mikro secara profesional dan berkelanjutan, karakter sektor mikro harus benar-benar dikuasai oleh praktisi BMT. Resiko dan keamanan harus tetap menjadi perhatian, meski tidak mesti dalam bentuk yang kaku. Yang paling penting adalah kreatifitas BMT agar resiko dapat ditekan seminimal mungkin, tanpa mengorbankan potensi keuntungan dan prinsip kerjasama yang saling menguntungkan.
Diantara cara yang harus ditempuh adalah dengan pendampingan kepada mitra pembiayaan, misalnya dalam cara mengangsur pengembalian pembiayaan. Cara pengembalian pinjaman harus memperhatikan pola penghasilan pelaku usaha. Jika penghasilannya harian, maka angsuran dapat dibuat pola harian. Demikian pula jika pola penghasilannya lima harian, mingguan maupun sepuluh harian.
BMT IHSAN MULIA juga perlu membiasakan menabung bagi semua penerima pembiayaannya. Dengan dua pola ini, kekhawatiran jika pengembalian akan macet bisa diminimalisir. Katakanlah, jika saatnya mengangsur belum ada dana maka bisa diambilkan dari tabungan yang bersangkutan.
Nurhidayanto
Manajer Program ISES Consuling Indonesia
BMT Artha Barokah, Mitra Andalan Pedagang Pasar di Imogiri
Pedagang di pasar Imogiri, baik yang memiliki kios permanen maupun yang sekedar berjualan di amben – bahkan yang masih nglesot lesehan di lantai pasar – telah akrab dengan para petugas BMT Artha Barokah. Kehadiran BMT dalam dua tahun terakhir ini menumbuhkan harapan baru membaiknya kesejahteraan para pelaku usaha di pasar tradisional di kawasan selatan Yogyakarta ini.
"Mas dan mbak BMT", demikian para mbok bakul memanggil para account officer BMT Artha Barokah, menjadi pilihan baru bagi mereka yang berkategori pedagang mikro. Sebelumnya para bakul tidak punya pilihan selain meminjam kepada bank thithil, sebutan mereka untuk praktek rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga yang mencekik. BMT memberikan jasa tabungan dan pembiayaan kepada para pedagang pasar ini dengan cara perhitungan keuntungan yang berbeda, tanpa sistem bunga, dengan pelayanan yang sangat luwes.
Pilihan BMT Artha Barokah untuk membidik sektor pasar tradisional bukan tanpa perhitungan matang. "Menurut hemat kami para pedagang pasar menjalankan usahanya dengan perputaran yang tinggi. Jika dihitung dengan membandingkan terhadap modal usaha yang dikelolanya, tingkat keuntungan pedagang pasar cukup tinggi," tutur Kasidi, Manajer BMT Artha Barokah.
Tambahan modal sebesar 500 ribu saja telah sangat bernilai bagi pedagang buah, penjual es dawet, pedagang sayur, pedagang kerupuk hingga pedagang ayam di Pasar Imogiri. Terbukti melalui usaha inilah mereka, para pelaku usaha mikro yang berjiwa mandiri ini, dapat membiayai sekolah anak-anaknya hingga perguruan tinggi
Resiko kemacetan pengembalian memang selalu ada, tak hanya karakter pedagang pasar, namun semua usaha memang memiliki resiko rugi. Namun para pedagang pasar tradisional cenderung lebih jujur dan apa adanya. "Walaupun usaha mereka relatif kecil, kejujuran dan tekad untuk mengembalikan pembiayaan secara tepat waktu juga tidak perlu diragukan lagi," tambah Kasidi.
BMT Artha Barokah telah membaca dengan seksama potensi pasar-pasar di daerah Imogiri dengan cermat. Dengan memasuki pasar tradisional, BMT ini berharap dua manfaat sekaligus. Dua manfaat ini dapat tercermin dari namanya : manfaat artha (finansial, produktifitas modal, keduniaan) dan manfaat barokah (pahala dari Alloh swt., akhirat)
Hingga hari ini BMT Artha Barokah telah melayani ratusan pedagang. Mereka tersebar di berbagai pasar di wilayah selatan Kabupaten Bantul yang sedang bangkit dan tumbuh pesat pasca bencana gempa 2 tahun lalu. Di pasar Imogiri yang baru pun BMT Artha Barokah membersamai para pedagang yang kini menempati kios-kios yang lebih bersih dan tertata rapi.
Selain menggarap segmen pedagang pasar, BMT Artha Barokah merambah sektor pertanian dan kerajinan. Di sektor pertanian, BMT telah bermitra dengan kelompok tani Sekar Mulyo dan Lestari Mulyo di Selopamioro. Sedangkan di sektor usaha kerajinan BMT ini menggandeng beberapa pengrajin di sekitar Imogiri.
Untuk menguatkan pendanaannya, BMT Artha Barokah juga menjalin kerja sama dengan LPPM-UGM (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat) untuk menyalurkan dana kepada UMKM yang ada di Imogiri dan sekitarnya. Ini juga dimaknai sebagai bentuk kepercayaan masyarakat kepada BMT ini.
Pasar Tradisional, Pasar BMT dengan Manfaat Ganda
Hubungan BMT dengan pasar (tradisional) dapat dijelaskan setidaknya melalui dua alasan. Pertama, sejak awal pertumbuhannya BMT memang fokus masuk ke pasar-pasar tradisional. Para pelaku penggerak awal BMT di Tanah Air, medio tahun 1995, mendefinisikan "lintah darat" sebagai "musuh utama" di masyarakat bawah. Para pelaku pembungaan uang dengan keuntungan yang mencekik peminjam ini bergerak aktif di pasar-pasar tradisional. Maka, BMT langsung terjun ke pasar-pasar ini dengan maksud meng-hijrah-kan para pedagang pasar kepada praktek simpan-pinjam yang halal dan memberikan keuntungan dua pihak. Jadi, dasar historis relasi antara BMT dengan pasar tradisional memang sudah dimulai sejak awal sejarah lembaga keuangan syariah ini.
Penjelasan lainnya terkait dengan potensi ekonomi di pasar tradisional. Jika mau berhitung lebih cermat, praktek perdagangan di pasar tradisional menghasilkan margin keuntungan yang cukup besar. Perputaran uang pun sangat cepat. Pagi (dini hari) kulakan sayur, siang dagangan sudah habis plus pendapatan berupa keuntungan. Harga kulakan bayam 500 rupiah dijual 750 rupiah, keuntungan riel sudah 50%. Ini terjadi berulang setiap harinya. Meski omsetnya kecil namun perputarannya cepat. Titik transaksi di pasar tradisional juga sangat banyak, terkumpul dalam sebuah komunitas. Pengelolaan pembiayaan dengan demikian lebih ringkas dan mudah. Sangat beralasan jika ada BMT yang tetap mempertahankan segmen pedagang pasar dalam operasinya.
Untuk menjadikan strategi BMT berbuah manfaat ganda, perlu langkah-langkah taktis yang diperhitungkan dengan cermat dan dilaksanakan secara konsisten. Aspek kolektibilitas (tingkat pengembalian dana) adalah salah satunya. Untuk mengoptimalkan pengangsuran, BMT dapat membiasakan menabung kepada para mitra pembiayaan. Secara periodik petugas BMT mendatangi penerima pembiayaan untuk mengumpulkan tabungan dari pendapatan rutin mereka, berapa pun nilainya. Saat jatuh tempo angsuran, mitra BMT dapat memilih apakah akan membayar secara tunai atau mendebet dari akumulasi tabungannya.
Langkah lainnya adalah aspek pendidikan. Edukasi tentang transaksi halal/syariah harus diterapkan secara terus-menerus. Ini adalah bagian penting dari misi BMT agar masyarakat, terutama mitranya, memahami BMT secara mendalam hingga ke esensinya. Mitra dapat berperan aktif untuk menjadi "juru kampanye" transaksi syariah. Bukan hanya menjadi obyek layanan BMT ansich. Jika hal ini dilakukan, semakin sering mitra bertransaksi dengan BMT Artha Barokah maka semakin loyal pula mitra. Semakin kecil pula kemungkinan terjerat kembali ke praktek rentenir.
Penulis :
Nurhidayanto (www.nurhidayanto.blogspot.com)
Manajer Program ISES Consulting Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- Caknur Nurhidayanto
- Bantul, DI. Yogyakarta, Indonesia
- Saya percaya setiap orang hidup untuk sebuah misi, amanat dan titipan Tuhan. Saya memiliki impian terbaik untuk orang-orang yang saya cintai, dan ingin meraih impian saya dengan membantu sesama menggapai impiannya. Mari berbagi.