Selamat Datang dan Tengkyu!

Terima kasih telah mengunjungi blog saya. Senang bisa berinteraksi dengan Anda.

Mungkin dengan media ini lebih mudah bagi saya dan Anda berinteraksi lintas ruang dan waktu.

Siapa pun Anda, mari berbagi gagasan dan inspirasi!


b+
Nurhidayanto

Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2009

Segala Sesuatu Ada Terminalnya

Segala sesuatu ada terminalnya. Mesin perlu berhenti sejenak untuk pendinginan. Komputer kita butuh reboot dan restart. Kendaraan juga perlu diistirahatkan dari pemakaian terus-menerus.
Tubuh kita pun perlu berhenti sejenak dari kepenatan dan rutinitas. Alloh swt. menyediakan waktu-waktu sholat (di antaranya) untuk keperluan itu.
Rehat sholat adalah kebutuhan, yang kadang karena ego kita menutupinya, kita abai tidak sudi berhenti sejenak. Padahal siraman wudhu adalah kesejukan yang nikmat tiada tara.
Hanya yang mau mendengar hati kecilnya sajalah yang dapat menangkap isyarat ini. Andakah yang beruntung di antaranya? Semoga.

Sabtu, 18 April 2009

Sepasang Kesetiaan


Saat itu saya dalam perjalanan pulang kampung. Karena trayek bis hanya sampai kota Ngadirojo, sebuah kota kecil sekitar dua puluh kilo dari tempat tinggal saya, saya harus nyambung angkutan lokal dari Ngadirojo ke Baturetno.
Matahari belum sempurna terbit, saat saya memutuskan memilih sebuah minibus, berbaur dengan para pedagang kerupuk, serabi, tempe, bahkan kambing dan ayam. Untuk kambing, jelas tempatnya terpisah, ditempatkan di bagasi. Sementara, beberapa keranjang berisi ayam yang tak berhenti berkeciap berikut bau kotorannya yang memengapkan ruangan minibus, tumpang tindih dengan kardus-kardus berisi kerupuk dan makanan ringan lainnya, menjejali pintu utama.
Setelah minibus berjalan sekitar lima belas menit, dua orang penumpang naik. Seorang nenek tua yang terlihat sedang sakit, berjalan dengan menggunakan tongkat bambu wulung yang dipotong seadanya. Melihat warna mengilap di bagian pegangan tongkat, saya menyimpulkan bahwa tongkat itu telah cukup lama dipakai sehingga meninggalkan bekas yang khas. Seorang kakek di belakangnya. Tak kalah renta. Saya menaksir usianya sekitar awal delapan puluhan.
Minibus penuh sesak. Tak ada bangku kosong. Sang nenek tertatih-tatih saat menaiki minibus. Bahkan, sang kondektur harus mengangkatnya dengan susah payah, sementara si kakek menyusul di belakangnya, membantu sang kondektur—kendati saya yakin, bantuan ‘tenaga’ si kakek tidak berpengaruh apa-apa, malah mungkin justru merepotkan.
Saya tawarkan tempat duduk saya kepada si nenek, namun ia ragu-ragu. Hanya senyuman—saya merasa senyum ini begitu sedap dan ikhlas—yang dihadiahkannya. Saya mencoba meyakinkannya. “Silakan, Mbah! Saya nggak apa-apa, kok, berdiri.” Masih dengan ragu-ragu, si nenek kemudian berucap bahwa ia hendak periksa ke dokter ‘X’, seorang dokter yang cukup terkenal di Baturetno.
Ketika sekali lagi saya menawarkan bangku dengan bergegas berdiri, ia menatap kedua kakinya yang terlihat kaku. “Saya tidak bisa duduk, ” katanya. “Boleh untuk si Mbah saja?” ia menunjuk sang kakek. Tentu saja, saya mengangguk, mempersilakan duduk sang kakek. Dan, setelah itu, yang saya lihat adalah hal yang sungguh dramatis. Sang nenek, karena kedua kakinya tidak bisa ditekuk, ternyata memang benar tidak bisa duduk dengan wajar. Suaminyalah yang duduk, dan setengah memangku isterinya itu dengan penuh kasih. Sebelah tangan renta keriputnya—yang tak bisa menyembunyikan gemetar—berpegangan pada sandaran bangku, sedangkan sebelah lagi melingkar di tubuh renta isterinya. Sedangkan sang nenek, berpegangan pada pundak lelakinya.
Saya tak tahu pasti apa yang lintas dalam pikiran masing-masing. Yang saya lihat hanyalah ‘kesempurnaan’ cinta seorang manusia. Saya begitu terharu dan merasa tak akan mampu menaksir kedalaman cinta keduanya. Cinta yang bertahan hingga di usia senja. Saya hanya sanggup mereka-reka dialog seperti apa yang layak untuk adegan semenakjubkan ini. Mungkin begini:
 Si lelaki, dengan bahu kokoh dan lengannya yang perkasa, menawarkan rasa aman kepada isterinya. “Tenanglah, Sayang, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Kau akan aman berada di sampingku.”
 Sementara si wanita, dengan kepasrahan seorang isteri, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, “Bawalah aku ke mana kau pergi, Kekasih! Sebab aku tahu, kaulah waliku di akhirat nanti. Bawalah, dan aku akan serta. Tak peduli sakit ini. Tak usah khawatir, sebab aku tak mengeluhkannya. Bukankah kita hanya semata berusaha mencari kesembuhan dari Alloh swt.?”

* * *
Saya masih melihat—dan tak ingin melewatkannya—saat sang kakek menuntun isterinya menyeberang jalan. Ya, sementara banyak pasangan yang cintanya meredup saat memasuki usia kepala lima, atau malah jauh sebelumnya.
Saya teringat bagaimana banyak pasangan, di hari tuanya memilih hidup terpisah. Bukan bercerai. Sang ibu mengikut tinggal di rumah anaknya, sedang si kakek di rumah anaknya yang lain. Kalaupun ada yang lebih ‘harmonis’ dari itu, tetap saja saya akan begitu sulit mendapatkan sepasang kakek-nenek membahasakan cinta dengan begitu romantis.

Diadaptasi dari sebuah artikel berjudul "Cinta di Hari Tua",
yang saya (maaf) benar-benar lupa sumbernya.

Rabu, 01 April 2009

Dibangunkan "Malaikat"

Dibangunkan "Malaikat"
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan mengangkatmu ke tempat yang terpuji .” (QS. Al-Isra 79)

Mendadak aku terjaga dari tidurku di tengah malam buta itu. Mataku terbelalak seolah-olah ada kekuatan ghaib yang memaksaku untuk melek dan segera bangun. Aku lihat jam weker di atas meja belajar masih menunjukkan waktu pukul dua malam. Lantunan ayat-ayat suci Al Quran lewat suara imam kondang dari Arab Saudi Syeikh As-Sudais yang biasa aku putar lewat kaset di radio tape usang milik kawanku pun tidak mampu membuaiku untuk kembali memejamkan mata. Biasanya ketika kaset itu berhenti berputar dan meminta untuk dibalik dari sisi A ke sisi B aku secara otomatis akan terbangun dari tidur dan akan kembali tidur setelah selesai membalik dan membuat kaset itu kembali membunyikan alunan merdu “pesan-pesan dari langit”. Namun, malam ini sungguh tidak biasa.
Hampir setengah jam lamanya aku mencoba memejamkan mata sambil pikiranku menerawang kemana-kemana, terutama teringat akan cerita-cerita horor dari pengalaman pribadi teman-teman kuliah dulu.
Tiba-tiba, terlintas dalam pikiranku: “Kenapa tidak melaksanakan shalat malam saja sambil mencoba menenangkan kegelisahanku malam ini? Siapa tahu Allah akan mempercepat pengabulan semua doa dan harapanku yang tertunda.”
Shalat malam, suatu kegiatan yang sudah sangat lama sekali tidak aku kerjakan. Iya, seingatku terakhir kali aku rajin mengerjakan shalat malam adalah ketika aku kepengen sekali lulus UMPTN dan masuk UI. Setelah semua doaku di-ijabah oleh Allah, rasanya hampir tidak pernah aku melaksanakan lagi shalat yang istimewa ini. Sungguh durhaka memang mahluk yang namanya manusia, ketika menderita mereka merengek-rengek kepada Allah, namun setelah permintaannya dikabulkan mereka seolah-olah tidak kenal lagi dengan Tuhannya. Dan akupun mungkin bagian dari kaum ini. Astaghfirullah...!
Malam itu, setelah selesai “berkomunikasi” dan bermunajat kepada Allah, aku kembali ke pembaringan untuk melanjutkan istirahatku. Namun, belum beberapa lama aku merebahkan diri, tiba-tiba terdengar suara “gemelitik” aneh dari kaca jendela yang berada tepat di samping tempatku berbaring. Kaca jendela itu tidak berteralis besi dan kadang-kadang juga berfungsi sebagai pintu darurat apabila kunci pintu kamar kos itu tidak bisa terbuka. Makin lama suara itu semakin kerap terdengar ditambah lagi dengan suara “klotek-klotek” aneh. Aku berpikir mungkin kucing tetangga kos kawanku yang baru saja beranak yang iseng menggaruk-garuk kaca jendela karena ingin masuk dan dibukakan pintu. Tapi, apa iya itu perbuatan si kucing, kalau bukan bagaimana?
Kecurigaanku bertambah kuat ketika aku dengar “degup” langkah-langkah kaki manusia mendekati jendela kamar itu. Akupun semakin pasti bahwa ini adalah langkah-langkah manusia dan bukannya kucing atau setan-setan kurang kerjaan. Namun, aku masih berbaik sangka bahwa jangan-jangan ini ulah teman-teman tetangga kosku yang kadang iseng mengganggu atau menakut-nakuti para penghuni kos yang lain.
Dengan masih menggunakan celana pendek dan sarung yang aku pakai sehabis shalat tadi, dengan nekad dan membaca bismilllah aku mencoba memberanikan diri membuka tirai yang menutup jendela itu sekalian ingin memberi surprise kepada siapapun yang ada diluar sana.
Hal yang membuat aku kaget setengah mati adalah ketika aku menyibakkan tirai jendelanya secara mendadak. Ternyata ada dua sosok mahluk di luar kamar kosan itu, yang satu berbadan pendek namun gempal sedangkan satunya lagi berbadan sedang. Manusia-manusia salah karir itu sedang asyik berjongkok sambil khusyuk mencongkel daun jendela kamar sahabatku. Mataku dan mata mereka saling bertatapan dan sama-sama terkejut bukan kepalang. Secara spontan aku teriak “Maling...!” sekeras-kerasnya dan berulang-ulang untuk mengusir mereka sambil mencoba membangunkan tetangga untuk sama-sama mengejar dan membekuk para penjahat tengik itu.
Dengan lari terbirit-birit karena dikejar-kejar orang sekampung, para bandit kampung itu pontang-panting melewati lorong dan gang sempit sepanjang kampung. Akhirnya para penjahat itu berhasil meloloskan diri dengan membonceng dua unit sepeda motor yang dikemudikan anggota komplotannya yang diparkir tidak jauh dari tempat kos kawanku itu. Ternyata ada sepasang maling lagi yang mengintai pas di depan kamar kos yang ikut lari tunggang-langgang karena kaget kejahatannya ketahuan. Jadi, total maling yang beroperasi malam itu kira-kira ada enam personil.
“Subhanallah…! Alhamdulillah..!”, ucapku berkali-kali dalam hati.
Kejadian itu membuat aku memahami lagi salah satu rahasia Allah akan manfaat dan keutamaan shalat malam. Memang berat untuk menjalankan segala perintah Allah baik yang wajib maupun yang sunah apabila kita tidak mengalami sendiri suatu pengalaman spiritual yang menguatkan keimanan kita. Ada orang-orang yang diberi hidayah dan kembali kejalan Allah setelah dirinya diperlihatkan sebuah kejadian yang membuat spirit keimanannya bangkit kembali.

Diadaptasi dari artikel Bayu Eljowo (eljowo@yahoo.com) di eramuslim.com

Mengenai Saya

Foto saya
Bantul, DI. Yogyakarta, Indonesia
Saya percaya setiap orang hidup untuk sebuah misi, amanat dan titipan Tuhan. Saya memiliki impian terbaik untuk orang-orang yang saya cintai, dan ingin meraih impian saya dengan membantu sesama menggapai impiannya. Mari berbagi.